Tampilkan postingan dengan label REMAJA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label REMAJA. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku di Kalangan Remaja



Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku di Kalangan Remaja

Dalam era globalisasi ini teknologi semakin maju, tidak dapat dipungkiri hadirnya internet semakin dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kegiatan sosialisasi, pendidikan, bisnis, dsb. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh vendor smartphone serta tablet murah yang menjamur dan menjadi trend . Hampir semua orang di Indonesia memiliki smartphone , dengan semakin majunya internet dan hadirnya smartphone maka media sosial pun ikut berkembang pesat.
Media sosial merupakan situs dimana seseorang dapat membuat web page pribadi dan terhubung dengan setiap orang yang tergabung dalam media sosial yang sama untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast , maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.
Sangat mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama bagi seseorang dalam membuat akun di media sosial. Kalangan remaja yang mempunyai media sosial biasa nya memposting tentang kegiatan pribadinya, curhatannya, serta foto-foto bersama teman-temannya. Semakin aktif seorang remaja di media sosial maka mereka semakin dianggap keren dan gaul. Namun kalangan remaja yang tidak mempunyai media sosial biasanya dianggap kuno, ketinggalan jaman, dan kurang bergaul.
Media sosial menghapus batasan-batasan dalam bersosialisasi. Dalam media sosial tidak ada batasan ruang dan waktu, mereka dapat berkomunikasi kapanpun dan dimanapun mereka berada. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang asalnya kecil bisa menjadi besar dengan media sosial, begitu pula sebaliknya.
Bagi masyarakat Indonesia khususnya kalangan remaja, media sosial seakan sudah menjadi candu, tiada hari tanpa membuka media sosial, bahkan hampir 24 jam mereka tidak lepas dari smartphone . Media sosial terbesar yang paling sering digunakan oleh kalangan remaja antara lain; Facebook, Twitter, Path, Youtube, Instagram, Kaskus, LINE, Whatsapp, Blackberry Messenger. Masing-masing media sosial tersebut mempunyai keunggulan khusus dalam menarik banyak pengguna media sosial yang mereka miliki. Media sosial memang menawarkan banyak kemudahan yang membuat para remaja betah berlama-lama berselancar di dunia maya.
Pesatnya perkembangan media sosial juga dikarenakan semua orang seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk media tradisional seperti televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan media sosial. Para pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan jaringan internet tanpa biaya yang besar dan dapat dilakukan sendiri dengan mudah.
Para pengguna media sosial pun dapat dengan bebas berkomentar serta menyalurkan pendapatnya tanpa rasa khawatir. Hal ini dikarenakan dalam internet khususnya media sosial sangat mudah memalsukan jati diri atau melakukan kejahatan. Bahkan ada sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Peter Steiner:
“On the internet nobody knows you`re a dog” 1

Analisis Sosiologis Media Sosial

Di era modern, manusia dipermudah dalam melakukan berbagai hal. Salah satu kemudahan yang diciptakan adalah berinteraksi melalui internet. Semakin berkembangnya internet memunculkan pola interaksi dapat dilakukan tanpa harus berada dalam ruang dan waktu yang bersamaan. Menurut Anthony Giddens, dengan adanya modernitas hubungan ruang dan waktu terputus yang kemudian ruang perlahan-lahan terpisah dari tempat. 2 Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa manusia menciptakan interaksi baru tanpa harus bertemu secara fisik, yang salah satunya dilakukan melalui internet khususnya media sosial.
Dalam kajian sosiologi, maraknya media sosial erat hubungannya dengan bagaimana kita bersosialisasi, berteman, berinteraksi. Dengan munculnya kedua media sosial tersebut kita mampu berkomunikasi satu sama lain, dalam ilmu sosiologi hal tersebut dinamakan bentuk komunikasi langsung. Komunikasi langsung dapat diartikan sebagai salah satu cara berinteraksi antara seseorang dengan orang lain secara langsung, baik melalui chat maupun melalui pesan.
Begitu pula dengan media sosial Facebook dimana kita juga bisa membuat sebuah grup, dalam konteks ini mengenai hubungannya dengan sosiologi, dengan fitur grup di Facebook, kita mampu membuat grup yang mampu berbagi mengenai ilmu-ilmu sosiologi ataupun bisa untuk memecahkan masalah yang sedang terjadi di masyarakat, karena didalam ilmu sosiologi, salah satu yang diajarkan adalah memecahkan masalah yang sedang terjadi di masyarakat, dan tentunya kita tahu bahwa obyek dalam ilmu sosiologi itu adalah masyarakat.
Jadi hubungan media sosial dengan ilmu sosiologi sangat erat. Dengan kedua media sosial tersebut kita mampu berinteraksi, dan berkomunikasi satu sama lain, bukan hanya itu kita juga bisa mendapatkan teman baru dan kita juga bisa saling sharing atau berbagi ilmu dan juga bisa memecahkan masalah yang sedang dihadapi di masyarakat. Apabila kita menyalahgunakan media sosial tersebut, kita akan membuat masalah bukan menyelesaikan masalah.
Berikut adalah beberapa dampak positif dan negatif dari jejaring sosial:
Dampak positif
Dampak negatif
Tempat promosi yang baik dan murah
Mengganggu kegiatan belajar remaja
Dampak memperluas jaringan pertemanan
Bahaya kejahatan
Media komunikasi yang mudah
Bahaya penipuan
Tempat mencari informasi yang bermanfaat
Tidak semua pengguna media sosial bersifat sopan
Tempat berbagi foto, informasi, dll.
Mengganggu kehidupan dan komunikasi keluarga

Media Sosial di Kalangan Remaja

Kata remaja berasal dari kata bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah ini mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Masa remaja menunjukan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Masa remaja merupakan masa transisi sebab pada saat itu, seseorang telah meninggalkan masa kanak-kanak namun ia juga belum memasuki masa dewasa.
Kaum remaja saat ini sangat ketergantungan terhadap media sosial. Mereka begitu identik dengan smartphone yang hampir 24 jam berada di tangan dan sangat sibuk berselancar di dunia online yang seakan tidak pernah berhenti. Melihat hal ini, Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) bersama Yahoo! melakukan riset mengenai penggunaan internet di kalangan remaja. Hasilnya menunjukkan, kalangan remaja usia 15-19 tahun mendominasi pengguna internet di Indonesia sebanyak 64%.
Penggunaan media sosial di kalangan remaja ini juga menimbulkan pro dan kontra. Penggunaan media sosial seringkali mengganggu proses belajar remaja, sebagai contoh ketika sedang belajar lalu ada notification chatting dari teman yang akhirnya dapat mengganggu proses belajar, dan kebiasaan seorang remaja yang berkicau berkali-kali di Twitter yang terkadang hanya untuk mengeluhkan betapa sulit pelajaran yang sedang dia kerjakan.
Tidak berhenti sampai di situ saja. Yang lebih parah ada beberapa kasus seorang remaja yang dilaporkan hilang oleh orangtuanya yang ternyata kabur dengan teman yang baru dikenalnya di Facebook. Lalu apa yang menyebabkan seorang remaja begitu aktif di jejaring sosial? Dalam sebuah penelitian dinyatakan, media sosial berhubungan dengan kepribadian introvert. 3 Semakin introvert seseorang maka dia akan semakin aktif di media sosial sebagai pelampiasan. Peran orangtua sangat dibutuhkan sebagai pengawas dan juga sosok yang memahami anak. Keluarga harus dapat memberikan fungsi afektif agar seorang anak mendapatkan perhatian yang cukup.
Di kota besar seperti Jakarta, seringkali para remaja mengalami kekosongan karena kebutuhan akan bimbingan orangtua tidak ada atau kurang. Hal ini disebabkan karena keluarga mengalami disorganisasi. Pada keluarga yang secara ekonomis kurang mampu, hal tersebut disebabkan karena orang tua harus mencari nafkah, sehingga tidak ada waktu sama sekali untuk memperhatikan dan mengasuh anak-anaknya. Sedangkan pada keluarga yang mampu, persoalannya adalah karena orang tua terlalu sibuk dengan urusan-urusan di luar rumah dalam rangka mengembangkan prestise. 4
Kalangan remaja yang menjadi hiperaktif di media sosial ini juga sering memposting kegiatan sehari-hari mereka yang seakan menggambarkan gaya hidup mereka yang mencoba mengikuti perkembangan jaman, sehingga mereka dianggap lebih populer di lingkungannya.
Contohnya saja di Twitter, para remaja menampilkan diri melalui mengunggah avatar yang paling bagus dilihat, memposting tweet dan retweet sebanyak-banyaknya dengan tujuan memperlihatkan eksistensinya di dunia maya, mereka berusaha memperlihatkan eksistensi dirinya serta membangun citra sebaik mungkin. Para remaja juga berusaha memperlihatkan citra positif di Twitter. Begitupun halnya dengan Facebook, para remaja memposting foto-fotonya yang sedang bersenang-senang dengan teman-temannya dan seolah memperlihatkan betapa bahagia dirinya. Dengan demikian, dapat dikatakan individu menjadikan media sosial sebagai media presentasi diri.
Namun apa yang mereka posting di media sosial tidak selalu menggambarkan keadaan social life mereka yang sebenarnya. Ketika para remaja tersebut memposting sisi hidup nya yang penuh kesenangan, tidak jarang kenyataannya dalam hidupnya mereka merasa kesepian. Manusia sebagai aktor yang kreatif mampu menciptakan berbagai hal, salah satunya adalah ruang interaksi dunia maya. Setiap individu mampu menampilkan karakter diri yang berbeda ketika berada di dunia maya dengan dunia nyata. Hal ini dalam sosiologi disebut dengan istilah dramaturgi atau presentasi diri (The Presentation of Self ) untuk menjelaskan bagaimana seseorang menampilkan diri pada lingkungan atau panggung tertentu. 5
The Presentation of Self by Erving Goffman
Teori dramaturgi dipopulerkan oleh Erving Goffman yang pada intinya untuk memahami perilaku manusia dalam kehidupan sosial seperti sebuah pertunjukan drama. Teori dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain.
Dalam dramaturgis, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Setiap individu adalah aktor yang berusaha membuat pertunjukan dramanya sendiri. Dalam mencapai tujuannya, para remaja berusaha mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Aktor juga harus memperhitungkan setting, kostum, penggunaan kata dan lainnya untuk meninggalkan kesan baik pada lawan interaksi dan memudahkan jalan untuk mencapai tujuan yang oleh Goffman disebut manajemen daya tarik (impression management). 6
Goffman juga melihat perbedaan akting yang besar saat aktor berada di atas panggung (front stage ) dan di belakang panggung (back stage). Front stage adalah ketika adanya penonton yang melihat kita dan kita sedang berada dalam bagian pertunjukan. Saat itu kita berusaha untuk memainkan peran kita sebaik-baiknya agar penonton simpatik. Sedangkan back stage adalah keadaan di mana kita berada di belakang panggung, dengan kondisi tidak ada penonton, sehingga kita dapat berperilaku bebas tanpa memperdulikan peran yang harus kita bawakan. Apabila bisa dilakukan dengan baik, penonton akan termanipulasi dan melihat aktor sesuai sudut yang ingin ditampilkan oleh aktor tersebut.
Contoh konkrit dalam media sosial adalah ketika seorang remaja memperkenalkan diri melalui Facebook. Akun Fcebook tersebut sengaja dibuat agar mempunyai citra yang baik untuk mewakili peran yang akan dimainkan oleh si pemilik. Begitu pula saat mereka memposting status, komentar, dan foto. Mereka sengaja membangun sebuah image yang baik, yang ingin diperlihatkan pada teman-temannya. Apa yang mereka perlihatkan di akun Facebook adalah sebuah front stage dari diri seorang remaja, dan teman-teman mereka di Facebook adalah penontonnya. Para remaja akan membuat segala macam cara untuk mempertahankan eksistensi diri mereka dalam lingkungannya. Mereka akan merasakan kebahagiaan tersendiri ketika orang lain dapat melihat image diri yang mereka bangun di akun Facebook-nya dan akan lebih bahagia lagi ketika ada temannya yang merasa iri dengan image yang mereka perankan.
Namun segalanya berubah ketika kita melihat para remaja tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Panggung tempat mereka bermain adalah panggung back stage, tidak ada penonton dari teman-teman nya di media sosial, mereka menampilkan peran yang berbeda dengan apa yang mereka bangun di panggung front stage .
Sehingga tidak mengherankan jika suatu saat kita bertemu dengan seseorang yang berbeda jauh ketika berada di Twitter dengan ketika berada di realitas nyata. Contohnya, seseorang yang kita lihat sangat humoris dan banyak berbicara di dunia maya, tetapi ketika berinteraksi dalam kehidupan nyata ternyata ia adalah sosok yang pemalu dan pendiam. Namun biasanya yang dapat melihat peran back stage seseorang adalah keluarganya, karena keluarga tentu sudah tahu sifat asli dari remaja tersebut. Mereka tidak perlu membangun suatu panggung ketika berinteraksi dengan keluarga nya sendiri.
Para penonton remaja yang sedang berakting di front stage seringkali tertipu dan tidak dapat lagi membedakan apakah kehidupan serta image seorang remaja yang mereka lihat di sebuah media sosial adalah diri mereka yang sebenarnya atau yang palsu. Di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, realitas telah hilang dan menguap. Kini kita hidup di zaman simulasi, di mana realitas tidak hanya diceritakan, dipresentasikan, dan disebarluaskan namun juga dapat direkayasa, dibuat dan disimulasi. Baudrillard memandang era simulasi dan hiper-realitas sebagai bagian dari rangkaian fase citraan yang berturut-turut.
Baudrillard menyatakan bahwa kita terbiasa hidup dalam cermin fantasi, dalam diri yang terbagi dan dalam alienasi. Saat ini kita hidup dalam fantasi sebuah layar, dan jaringan. Seluruh mesin kita adalah layar-layar. Kita pun akan menjadi layar dan interaksi manusia akan berubah menjadi interaksi pada layar. Kita dalah citra bagi satu sama lain, dimana satu-satunya takdir bagi sebuah mahluk citra adalah menjadi pengikut citra dalam layar.
Pernyataan Baudrillard bahwa “saat ini kita hidup dalam fantasi sebuah layar, dari sebuah antarmuka, dalam persentuhan dan jaringan,” sesuai dengan kenyataan bahwa manusia di masa kini yang terkoneksi antara satu dengan yang lain melalui penggunaak smartphone maupun tablet meningkatkan kemudahan manusia untuk terhubung pada manusia lain melalui jaringan internet dan tentunya layar.
Manusia akhirnya menjadi teralienasi dengan lingkungan sosial dengan lingkungan sekitar mereka, karena mereka sibuk dengan gadget masing-masing. Mereka terjebak dalam pencitraan di dunia virtual, baik dalam menciptakan citranya sendiri maupun dalam memandang manusia lain. Ini pun sesuai dengan pernyataan Baudrillard, “kita terbiasa hidup dalam cermin fantasi, dalam diri yang terbagi dan dalam alienasi.”
Manusia saat ini terhubung dengan berbagai aplikasi media sosial yang membantu mereka untuk terhubung dengan manusia lain yang bisa berjarak ribuan mil melalui layar dan jaringan. Namun pada saat yang sama membuat jarak dengan mereka yang dekat dan mengalienasi mereka dengan lingkungan sosialnya. Manusia pun terjebak menjadi mahluk citra, baik dalam artian secara harfiah maupun secara kiasan.
Read More

REMAJA DAN PROBLEMATIKA CINTA



                                            REMAJA DAN PROBLEMATIKA CINTA

                                                                                                                        


Dunia remaja adalah  salah satu objek kajian yang selalu mendapat perhatian dari  banyak kalangan. Kita tentu  prihatin ketika melihat  pemberitaan di berbagai  media tentang  remaja yang bergaul bebas,  mengumbar syahwat atas nama cinta,  menjadi  pengedar dan pengguna narkoba, dan masih banyak lagi problem remaja di era modern ini.  Padahal remaja seharusnya tumbuh dengan  cinta yang positif dan produktif. Permasalahan remaja yang terjerumus ke dalam dunia percintaan yang mengarah kepada seks bebas disebabkan banyak hal, salah satunya adalah adanya legitimasi bahwa  remaja merupakan sosok yang  labil dan berada pada masa pencarian identitas. Sungguh hal ini tidaklah  tepat, karena faktanya, ada  juga remaja yang hidupnya tertata baik dalam  nilai agama dan moral.
Remaja vs Pemuda
Masa remaja adalah satu fase dalam siklus perkembangan manusia yang banyak dibahas oleh para ahli psikologi Barat. Secara  umum dikatakan bahwa masa ini adalah masa yang penuh gejolak, masa yang bergelimang dengan kegalauan, kebimbangan dan ketidak jelasan. Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak dan tidak termasuk golongan dewasa atau tua (Monks dkk,1992). Oleh para ahli dikatakan bahwa remaja berasal dari kata latin  adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan pisik  (Hurloc,1992). Pendapat lain mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak kepada masa dewasa, yang dimulai sejak masa terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun yaitu menjelang masa dewasa muda (Soetjiningsih.2004:45).
Namun, terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara pandangan  para ahli di Barat dengan konsep  Islam. Barat  menilai  masa remaja tidak memiliki tempat yang jelas.   Masa remaja adalah  masa peralihan dari masa kanak kanak ke dewasa muda yang cenderung berperilaku negatif.  Karena itu dalam paradigma Barat,  remaja yang bermasalah  dianggap wajar dan biasa  akibat masa pubertas tersebut.  Sedangkan ajaran Islam tidak pernah menjustifikasi dan  meligitimasi adanya penyimpangan moral atau perilaku negatif, termasuk di kalangan remaja. Islam memposisikan umur sebagai suatu fase pertumbuhan atau tahapan kehidupan manusia yang sangat potensial untuk penanaman nilai-nilai kebaikan. Al-Quran memberi penjelasan tentang fase kehidupan manusia surat Al-Mukmin  ayat 67. “ Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang ( anak), kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai (tua), di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”
Ayat tersebut memberi pengertian bahwa secara garis besar fase manusia selama hidup  dibagi menjadi tiga fase,  yaitu masa anak-anak, dewasa dan tua.  Hal tersebut juga ditegaskan oleh Mahdi Bin Abud  bahwa Islam membagi  kualifikasi jiwa ( nafs)  manusia  berdasarkan fase usia, yaitu,  Nafs nabatiyah (janin), nafs hayawaniyyah (usia kanak-kanak),dan nafs insaniyah (fase dewasa). (Muhammad izzuddin.2006:101). Jadi dalam perkembangan jiwa manusia menurut konsepsi Islam tidak dikenal adanya  fase remaja yang menjadi fase pertengahan antara usia kanak-kanak dan dewasa. Apalagi jika fase pertengahan tersebut (baca remaja) dikaitkan dengan hal-hal yang cendrung negatif dan destruktif.
Problematika Cinta
Potensi ketertarikan pada lawan jenis merupakan insting biologis (garizah) yang dibawa sejak lahir. Potensi ini mulai aktual ketika hormon seksual diproduksi oleh tubuh di usia baliqh yang ditandai dengan perubahan pisik dan psikhis. Kecederungan ini adalah karunia Allah kepada manusia dalam rangka melanjutkan kehidupan ummat manusia..(lajnah pentashhihan.2012:11-12)
Dalam sudut pandang Islam, jika seorang anak telah sampai pada taraf  kematangan (muturation) secara seksual disebut baliqh. Masa baliqh ini adalah ketika seseorang telah sampai pada taklif   dan yang telah mencapainya disebut mukallaf,  yaitu orang tersebut telah dibebankan kewajiban syar’i kepadanya. Mulai saat itu seorang anak  disebut dewasa karena ia  harus mempertanggungjawabkan   setiap amal perbuatannya kepada Allah.  Apabila ia berbuat baik  maka akan  diganjar dengan pahala, sebaliknya jika  berbuat salah, maka ia akan mendapat balasannya di dunia maupun di akhirat.
Islam  memberi lampu hijau  untuk melakukan pernikahan setelah masa baligh ini. Selain karena sudah masa taklif, ia dianggap sudah mampu berpikir matang dan dapat  membedakan   baik dan buruk.  Pernikahan untuk menjaga diri dari perbuatan zina atau seks bebas merupakan hal yang dipandang baik dalam ajaran Islam.
Dalam hadist disebutkan : “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian telah memiliki kesanggupan berumah tangga maka hendaklah ia menikah, karena hal itu dapat embatasi pandangan  dan memelihara kehormatan, akan tetapi jika ia belum mampu melakukannya maka hendaklah ia berpuasa karena hal itu dapat menjadi perisai (HR.Bukhari Muslim)
Kata pemuda / syabaab dalam hadist tersebut diartikan sebagai seorang yang sudah mencapai usia baliqh dan belum mencapai 30 tahun (Abdurrahman,Ad-Dibaaj:8). Kematangan secara seksual memang menimbulkan dorongan syahwat untuk beraktifitas yang mengarah kepada kegiatan reproduksi. Hal inilah yang mendorong manusia menuju kehinaan apabila hasrat tersebut disalurkan secara bebas tanpa melalui pernikahan yang sah. Jika  sang pemuda tersebut belum mampu menikah maka Islam menganjurkan untuk  memperbanyak  puasa (tidak makan dan minum) serta  menahan diri  dari hal-hal yang mengarahkan kepada rangsangan syahwat.
Di jelaskan Dalam al-qur’an surah an-nisa’: 28.  Allah hendak memberikan keringanan kepadamu[286], dan manusia dijadikan bersifat lemah. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukan bahwa manusia pada dasarnya lemah terhadap godaan seksual dan  tidak ada sesuatu yang paling lemah yang dimiliki oleh manusia kecuali urusan seksual (lajnah pentashhihan.2012: 15)
Kelemahan tersebut dimaknai sebagai problem manusia yang memiliki potensi untuk melampiaskan nafsu seksualnya secara tidak sah dengan dalih ketertarikan dan cinta kepada lawan jenisnya. Dalam sejarah juga ditemui berbagai macam penyimpangan perilaku manusia karena tidak mampu menahan nafsu seksualnya. Wajar jika al-qur’an mengatur sedemikian rupa masalah cinta dan seksualitas ini sesuai dengan fitrah manusia. Betapapun besarnya dorongan syahwat dan gejolak cinta dalam diri manusia, Islam tetap mengharamkan  hubungan percintaan diluar pernikahan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa cinta terbentuk dari dua perkara : yaitu menganggap baik sesuatu yang dicintai  dan ingin mendapatkan serta menemuinya, Apabila salah satu dari dua unsur ini tidak terpenuhi maka tidak ada yang namanya cinta dan kerinduan. Pembahasan mengenai alasan dan sebab-sebab cinta  akan melelahkan banyak orang. Sebagian orang bahkan  membicarakannya dengan pembicaraan yang tidak layak untuk disebut sebagai kebenaran. Cinta memang terbagi beberapa jenis. Namun cinta yang paling baik dan mulia  adalah cita kepada Allah swt sehingga  cinta ini mengharuskan kita mencintai apa yang dicintai Allah swt. (Ibnu Qayyim, 2008:310). Siapakah  yang dicintai Allah dan kitapun mencintainya? Mereka adalah al-muhsiniin (orang-orang yang berbuat baik), al-muqsithiin (orang orang yang adil) al-mutawakkiliin (orang-orang yang bertawakkal), al-mutathahhiriin (orang-orang yang mensucikan diri), at-tawwabiin (orang-orang yang bertaubat, dan orang orang yang jihad fii sabililah (berperang dijalan Allah).
Sesungguhnya ruang lingkup cinta dalam Islam sangatlah luas jika dibandingkan dengan cinta syahwat yang terbatas fisik dan materi. Islam juga telah memberi solusi terhadap penyaluran cinta ketika seorang anak mulai baliqh. Islam menghendaki manusia untuk saling mengenal,  saling menolong dan melengkapi, tujuannya tak lain  adalah menuju  ketakwaan. Bukan berkenalan dan bergaul tanpa batasan syariat sehingga para pemuda  muslim salah  dalam memaknai cinta dan  terjebak dalam cinta terlarang.  Tentunya hal tersebut sangat bertentangan dengan figur para pemuda pada masa kejayaan Islam  yang  telah  berjuang  dengan jiwa dan raga untuk Islam karena terdorong oleh rasa cinta  yang mendalam kepada  Allah dan Rasulullah.
Read More

Kamis, 24 April 2014

Ketika Burung Emprit Tak Lagi Takut Boneka Sawah

 Ketika Burung Emprit Tak Lagi Takut Boneka Sawah

  Petani di Bojonegoro, Jawa Timur, punya cara unik mengusir burung emprit, burung kecil yang memakan padi siap panen. Caranya, yaitu membuat mercon bumbung (bambu yang tengahnya dilubangi). Suara keras membuat ratusan burung warna cokelat itu kabur beterbangan.

Cara unik mengusir burung emprit ini tak sebagaimana kebiasaan petani di Bojonegoro. Biasanya mereka menggunakan pelbagai cara. Mulai dari menebar jaring di sekitar tegakan padi, atau membuat patung dari orang-orangan dan diberi suara agar burung takut. Tetapi, itu semua tak lagi dianggap efektif.

Teknik mengusir baru diterapkan diantaranya di persawahan seluas 12 hektare di Kelurahan Klangon, Kota Bojonegoro, yang memiliki padi siap panen. Para petani, sengaja memasang mercon bumbung sebanyak lima unit. Dipasang di pematang sawah dekat gubuk.

Mercon bumbung, dijalankan dengan proses sederhana. Bambu dipotong sekitar satu hingga satu meter setengah. Lalu, sekat-sekatnya di dalam bambu dilubangi. Sedangkan ujung bawahnya ditutup dan juga dibuat lubang kecil sebesar ibu jari. Selanjutnya, ujung bambunya dimasuki karbit dicampur air.

Setelah ditunggu antara dua hingga empat menit, Dari dalam bambu biasanya keluar suara mirip air panas yang mendidih. Lalu, lubang kecil disulut dengan api dan keluar suara keras, duarr...

Suara tersebut yang kemudian membuat terbang kerumunan burung emprit pemakan padi. Mercon bumbung dibunyikan bersahut-sahutan sehingga gaduh. "Lumayan efektif," kata Utomo, 58 tahun, saat di temui di pinggir pematang sawah, Minggu, 17 November 2013.

Hasilnya burung emprit yang biasanya menyerang secara berkelompok, terbang pergi. Padahal, tiap kelompok burung emprit ini, bisa berisi antara 100 hingga 200 ekor dan terbang bersama-sama di atas tanaman padi. Kawanan burung juga bisa mencapai tujuh kelompok lebih. "Kawanan burung emprit seribu ekor, biasanya bisa menghabiskan minimal 40 kilogram padi per hari."

SUJATMIKO
Read More

Senin, 10 Februari 2014

AKUUU

AHMAD KHOIRUL SYANI
Read More
Batman Begins - Help Select