Senin, 02 Juni 2014

REMAJA DAN PROBLEMATIKA CINTA



                                            REMAJA DAN PROBLEMATIKA CINTA

                                                                                                                        


Dunia remaja adalah  salah satu objek kajian yang selalu mendapat perhatian dari  banyak kalangan. Kita tentu  prihatin ketika melihat  pemberitaan di berbagai  media tentang  remaja yang bergaul bebas,  mengumbar syahwat atas nama cinta,  menjadi  pengedar dan pengguna narkoba, dan masih banyak lagi problem remaja di era modern ini.  Padahal remaja seharusnya tumbuh dengan  cinta yang positif dan produktif. Permasalahan remaja yang terjerumus ke dalam dunia percintaan yang mengarah kepada seks bebas disebabkan banyak hal, salah satunya adalah adanya legitimasi bahwa  remaja merupakan sosok yang  labil dan berada pada masa pencarian identitas. Sungguh hal ini tidaklah  tepat, karena faktanya, ada  juga remaja yang hidupnya tertata baik dalam  nilai agama dan moral.
Remaja vs Pemuda
Masa remaja adalah satu fase dalam siklus perkembangan manusia yang banyak dibahas oleh para ahli psikologi Barat. Secara  umum dikatakan bahwa masa ini adalah masa yang penuh gejolak, masa yang bergelimang dengan kegalauan, kebimbangan dan ketidak jelasan. Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak dan tidak termasuk golongan dewasa atau tua (Monks dkk,1992). Oleh para ahli dikatakan bahwa remaja berasal dari kata latin  adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan pisik  (Hurloc,1992). Pendapat lain mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak kepada masa dewasa, yang dimulai sejak masa terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun yaitu menjelang masa dewasa muda (Soetjiningsih.2004:45).
Namun, terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara pandangan  para ahli di Barat dengan konsep  Islam. Barat  menilai  masa remaja tidak memiliki tempat yang jelas.   Masa remaja adalah  masa peralihan dari masa kanak kanak ke dewasa muda yang cenderung berperilaku negatif.  Karena itu dalam paradigma Barat,  remaja yang bermasalah  dianggap wajar dan biasa  akibat masa pubertas tersebut.  Sedangkan ajaran Islam tidak pernah menjustifikasi dan  meligitimasi adanya penyimpangan moral atau perilaku negatif, termasuk di kalangan remaja. Islam memposisikan umur sebagai suatu fase pertumbuhan atau tahapan kehidupan manusia yang sangat potensial untuk penanaman nilai-nilai kebaikan. Al-Quran memberi penjelasan tentang fase kehidupan manusia surat Al-Mukmin  ayat 67. “ Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang ( anak), kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai (tua), di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).”
Ayat tersebut memberi pengertian bahwa secara garis besar fase manusia selama hidup  dibagi menjadi tiga fase,  yaitu masa anak-anak, dewasa dan tua.  Hal tersebut juga ditegaskan oleh Mahdi Bin Abud  bahwa Islam membagi  kualifikasi jiwa ( nafs)  manusia  berdasarkan fase usia, yaitu,  Nafs nabatiyah (janin), nafs hayawaniyyah (usia kanak-kanak),dan nafs insaniyah (fase dewasa). (Muhammad izzuddin.2006:101). Jadi dalam perkembangan jiwa manusia menurut konsepsi Islam tidak dikenal adanya  fase remaja yang menjadi fase pertengahan antara usia kanak-kanak dan dewasa. Apalagi jika fase pertengahan tersebut (baca remaja) dikaitkan dengan hal-hal yang cendrung negatif dan destruktif.
Problematika Cinta
Potensi ketertarikan pada lawan jenis merupakan insting biologis (garizah) yang dibawa sejak lahir. Potensi ini mulai aktual ketika hormon seksual diproduksi oleh tubuh di usia baliqh yang ditandai dengan perubahan pisik dan psikhis. Kecederungan ini adalah karunia Allah kepada manusia dalam rangka melanjutkan kehidupan ummat manusia..(lajnah pentashhihan.2012:11-12)
Dalam sudut pandang Islam, jika seorang anak telah sampai pada taraf  kematangan (muturation) secara seksual disebut baliqh. Masa baliqh ini adalah ketika seseorang telah sampai pada taklif   dan yang telah mencapainya disebut mukallaf,  yaitu orang tersebut telah dibebankan kewajiban syar’i kepadanya. Mulai saat itu seorang anak  disebut dewasa karena ia  harus mempertanggungjawabkan   setiap amal perbuatannya kepada Allah.  Apabila ia berbuat baik  maka akan  diganjar dengan pahala, sebaliknya jika  berbuat salah, maka ia akan mendapat balasannya di dunia maupun di akhirat.
Islam  memberi lampu hijau  untuk melakukan pernikahan setelah masa baligh ini. Selain karena sudah masa taklif, ia dianggap sudah mampu berpikir matang dan dapat  membedakan   baik dan buruk.  Pernikahan untuk menjaga diri dari perbuatan zina atau seks bebas merupakan hal yang dipandang baik dalam ajaran Islam.
Dalam hadist disebutkan : “Wahai para pemuda, siapa diantara kalian telah memiliki kesanggupan berumah tangga maka hendaklah ia menikah, karena hal itu dapat embatasi pandangan  dan memelihara kehormatan, akan tetapi jika ia belum mampu melakukannya maka hendaklah ia berpuasa karena hal itu dapat menjadi perisai (HR.Bukhari Muslim)
Kata pemuda / syabaab dalam hadist tersebut diartikan sebagai seorang yang sudah mencapai usia baliqh dan belum mencapai 30 tahun (Abdurrahman,Ad-Dibaaj:8). Kematangan secara seksual memang menimbulkan dorongan syahwat untuk beraktifitas yang mengarah kepada kegiatan reproduksi. Hal inilah yang mendorong manusia menuju kehinaan apabila hasrat tersebut disalurkan secara bebas tanpa melalui pernikahan yang sah. Jika  sang pemuda tersebut belum mampu menikah maka Islam menganjurkan untuk  memperbanyak  puasa (tidak makan dan minum) serta  menahan diri  dari hal-hal yang mengarahkan kepada rangsangan syahwat.
Di jelaskan Dalam al-qur’an surah an-nisa’: 28.  Allah hendak memberikan keringanan kepadamu[286], dan manusia dijadikan bersifat lemah. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukan bahwa manusia pada dasarnya lemah terhadap godaan seksual dan  tidak ada sesuatu yang paling lemah yang dimiliki oleh manusia kecuali urusan seksual (lajnah pentashhihan.2012: 15)
Kelemahan tersebut dimaknai sebagai problem manusia yang memiliki potensi untuk melampiaskan nafsu seksualnya secara tidak sah dengan dalih ketertarikan dan cinta kepada lawan jenisnya. Dalam sejarah juga ditemui berbagai macam penyimpangan perilaku manusia karena tidak mampu menahan nafsu seksualnya. Wajar jika al-qur’an mengatur sedemikian rupa masalah cinta dan seksualitas ini sesuai dengan fitrah manusia. Betapapun besarnya dorongan syahwat dan gejolak cinta dalam diri manusia, Islam tetap mengharamkan  hubungan percintaan diluar pernikahan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa cinta terbentuk dari dua perkara : yaitu menganggap baik sesuatu yang dicintai  dan ingin mendapatkan serta menemuinya, Apabila salah satu dari dua unsur ini tidak terpenuhi maka tidak ada yang namanya cinta dan kerinduan. Pembahasan mengenai alasan dan sebab-sebab cinta  akan melelahkan banyak orang. Sebagian orang bahkan  membicarakannya dengan pembicaraan yang tidak layak untuk disebut sebagai kebenaran. Cinta memang terbagi beberapa jenis. Namun cinta yang paling baik dan mulia  adalah cita kepada Allah swt sehingga  cinta ini mengharuskan kita mencintai apa yang dicintai Allah swt. (Ibnu Qayyim, 2008:310). Siapakah  yang dicintai Allah dan kitapun mencintainya? Mereka adalah al-muhsiniin (orang-orang yang berbuat baik), al-muqsithiin (orang orang yang adil) al-mutawakkiliin (orang-orang yang bertawakkal), al-mutathahhiriin (orang-orang yang mensucikan diri), at-tawwabiin (orang-orang yang bertaubat, dan orang orang yang jihad fii sabililah (berperang dijalan Allah).
Sesungguhnya ruang lingkup cinta dalam Islam sangatlah luas jika dibandingkan dengan cinta syahwat yang terbatas fisik dan materi. Islam juga telah memberi solusi terhadap penyaluran cinta ketika seorang anak mulai baliqh. Islam menghendaki manusia untuk saling mengenal,  saling menolong dan melengkapi, tujuannya tak lain  adalah menuju  ketakwaan. Bukan berkenalan dan bergaul tanpa batasan syariat sehingga para pemuda  muslim salah  dalam memaknai cinta dan  terjebak dalam cinta terlarang.  Tentunya hal tersebut sangat bertentangan dengan figur para pemuda pada masa kejayaan Islam  yang  telah  berjuang  dengan jiwa dan raga untuk Islam karena terdorong oleh rasa cinta  yang mendalam kepada  Allah dan Rasulullah.
Read More

HANYA UNTUK PARA ISTRI (Karakteristik Istri Sholihah)



HANYA UNTUK PARA ISTRI (Karakteristik Istri Sholihah)

                              

Sesungguhnya banyak sifat-sifat yang merupakan ciri-ciri seorang istri sholihah. Semakin banyak sifat-sifat tersebut pada diri seorang wanita maka nilai kesholehannya semakin tinggi, akan tetapi demikian juga sebaliknya jika semakin sedikit maka semakin rendah pula nilai kesholehannya. Sebagian Sifat-sifat tersebut dengan tegas dijelaskan oleh Allah dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan sebagiannya lagi sesuai dengan penilaian 'urf (adat). Karena pasangan suami istri diperintahkan untuk saling mempergauli dengan baik sesuai dengan urf.

Sifat-sifat tersebut diantaranya :

Pertama : Segera menyahut dan hadir apabila dipanggil oleh suami jika diajak untuk berhubungan.

Karena sifat ini sangat ditekankan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Nabi memerintahkan seorang istri untuk segera memenuhi hasrat seorang suami dalam kondisi bagaimanapun. Bahkan beliau bersabda “Jika seorang lelaki mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu istri itu menolak. Kemudian, suami itu bermalam dalam keadaan marah, maka istrinya itu dilaknat oleh para malaikat hingga waktu pagi.”
Kedua : Tidak membantah perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat. Allah berfirman :
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (QS An-Nisaa : 34)

Qotadah rahimahullah berkata فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ "Yaitu wanita-wanita yang taat kepada Allah dan kepada suami-suami mereka" (Ad-Dur al-Mantsuur 4/386)

Terkadang pendapat suami bertentangan dengan pendapat istri, karena pendapat istri lebih baik. Seorang istri yang sholehah hendaknya ia menyampaikan pendapatnya tersebut kepada sang suami akan tetapi ia harus ingat bahwasanya segala keputusan berada di tangan suami, apapun keputusannya selama tidak bertentangan dengan syari'at.

Ketiga : Selalu tidak bermasam muka terhadap suami.

Keempat : Senantiasa berusaha memilih perkataan yang terbaik tatkala berbicara dengan suami.

Sifat ini sangat dibutuhkan dalam keutuhan rumah tangga, betapa terkadang perkataan yang lemah lembut lebih berharga di sisi suami dari banyak pelayanan. Dan sebaliknya betapa sering satu perkataan kasar yang keluar dari mulut istri membuat suami dongkol dan melupakan kebaikan-kebaikan istri.

Yang jadi masalah terkadang seorang istri tatkala berbicara dengan sahabat-sahabat wanitanya maka ia berusaha memilih kata-kata yang lembut, dan berusaha menjaga perasaan sahabat-sahabatnya tersebut namun tidak demikian jika dengan suaminya.

Kelima : Tidak memerintahkan suami untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan wanita, seperti memasak, mencuci, memandikan dan mencebok anak-anak.

Keenam : Keluar rumah hanya dengan izin suami.

Ketujuh : Berhias hanya untuk suami.

Tidak sebagaimana sebagian wanita yang hanya berhias tatkala mau keluar rumah sebagai hidangan santapan mata-mata nakal para lelaki.

Kedelapan : Tidak membenarkan orang yang tidak diizinkan suami masuk/bertamu ke dalam rumah.

Kesembilan : Menjaga waktu makan dan waktu istirahatnya kerana perut yang lapar akan membuatkan darah cepat naik. Tidur yang tidak cukup akan menimbulkan keletihan.

Kesepuluh : Menghormati mertua serta kerabat keluarga suami.

Terutama ibu mertua, yang sang suami sangat ditekankan oleh Allah untuk berbakti kepadanya. Seorang istri yang baik harus mengalah kepada ibu mertuanya, dan berusaha mengambil hati ibu mertuanya. Bukan malah menjadikan ibu mertuanya sebagai musuh, meskipun ibu mertuanya sering melakukan kesalahan kepadanya atau menyakiti hatinya. Paling tidak ibu mertua adalah orang yang sudah berusia lanjut dan juga ia adalah ibu suaminya.

Kesebelas : Berusaha menenangkan hati suami jika suami galau, bukan malah banyak menuntut kepada suami sehingga menambah beban suami
Kedua belas : Segera minta maaf jika melakukan kesalahan kepada suami, dan tidak menunda-nundanya.

Nabi shallallahu 'alaihi bersabda :
" أَلاَ أُخْبِرُكُمْ ....بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ : لاَ أَذُوْقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى"

"Maukah aku kabarkan kepada kalian….tentang wanita-wanita kalian penduduk surga? Yaitu wanita yang penyayang (kepada suaminya), yang subur, yang selalu memberikan manfaat kepada suaminya, yang jika suaminya marah maka iapun mendatangi suaminya lantas meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata, "Aku tidak bisa tenteram tidur hingga engkau ridho kepadaku" (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Sahihah no 287)

Karena sebagian wanita memiliki sifat angkuh, bahkan malah sebaliknya menunggu suami yang minta maaf kepadanya.

Ketiga belas : Mencium tangan suami tatkala suami hendak bekerja atau sepulang dari pekerjaan.

Keempat belas : Mau diajak oleh suami untuk sholat malam, bahkan bila perlu mengajak suami untuk sholat malam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ, فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى, فَإِنْ أَبَى نَضَحَت فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud no 1308)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا في الذَّاكِرِيْنَ وَالذَّاكِرَاتِ
“Apabila seorang lelaki (suami) membangunkan istrinya di waktu malam hingga keduanya mengerjakan shalat atau shalat dua rakaat semuanya, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang berzikir.” (HR Abu Dawud no 1309)

Dalam riwayat yang dikeluarkan An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:
إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ, كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ
“Apabila seorang lelaki (suami) bangun di waktu malam dan ia membangunkan istrinya lalu keduanya mengerjakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat/berdzikir kepada Allah.”
Kelima belas : Tidak menyebarkan rahasia keluarga terlebih lagi rahasia ranjang !!. Bahkan berusaha menutup aib-aib suami, serta memuji suami agar menambahkan rasa sayang dan cintanya.

Keenam belas : Tidak membentak atau mengeraskan suara di hadapan suami.

Ketujuh belas : Berusaha untuk bersifat qona'ah (nerimo) sehingga tidak banyak menuntut harta kepada suami.

Kedelapan belas : Tidak menunjukkan kesedihan tatkala suami sedang bergembira, dan sebaliknya tidak bergembira tatkala suami sedang bersedih, akan tetapi berusaha pandai mengikut suasana hatinya.

Kesembilan belas : Berusaha untuk memperhatikan kesukaan suami dan jangan sampai suami melihat sesuatu yang buruk dari dirinya atau mencium sesuatu yang tidak enak dari tubuhnya.
Kedua puluh : Berusaha mengatur uang suami dengan sebaik-baiknya dan tidak boros, sehingga tidak membeli barang-barang yang tidak diperlukan.

Kedua puluh satu : Tidak menceritakan kecantikan dan sifat-sifat wanita yang lain kepada suaminya yang mengakibatkan suaminya bisa mengkhayalkan wanita tersebut, bahkan membanding-bandingkannya dengan wanita lain tersebut.

Kedua puluh dua : Berusaha menasehati suami dengan baik tatkala suami terjerumus dalam kemaksiatan, bukan malah ikut-ikutan suami bermaksiat kepada Allah, terutama di masa sekarang ini yang terlalu banyak kegemerlapan dunia yang melanggar syari'at Allah

Kedua puluh tiga : Menjaga pandangannya sehingga berusaha tidak melihat kecuali ketampanan suaminya, sehingga jadilah suaminya yang tertampan di hatinya dan kecintaannya tertumpu pada suaminya.

Tidak sebagaimana sebagian wanita yang suka membanding-bandingkan suaminya dengan para lelaki lain.

Kedua puluh empat : Lebih suka menetap di rumah, dan tidak suka sering keluar rumah.

Kedua puluh lima : Jika suami melakukan kesalahan maka tidak melupakan kebaikan-kebaikan suami selama ini. Bahkan sekali-kali tidak mengeluarkan perkataan yang mengisyaratkan akan hal ini. Karena sebab terbesar yang menyebabkan para wanita dipanggang di api neraka adalah tatkala suami berbuat kesalahan mereka melupakan dan mengingkari kebaikan-kebaikan suami mereka.


Setelah membaca dan memperhatikan sifat-sifat di atas, hendaknya seorang wanita benar-benar menimbang-nimbang dan menilai dirinya sendiri. Jika sebagian besar sifat-sifat tersebut tercermin dalam dirinya maka hendaknya ia bersyukur kepada Allah dan berusaha untuk menjadi yang terbaik dan terbaik.

Akan tetapi jika ternyata kebanyakan sifat-sifat tersebut kosong dari dirinya maka hendaknya ia ber-instrospeksi diri dan berusaha memperbaiki dirinya. Ingatlah bahwa surga berada di bawah telapak kaki suaminya !!!

Tentunya seorang suami yang baik menyadari hwa istrinya bukanlah bidadari sebagaimana dirinya juga bukanlah malaikat. Sebagaimana dirinya tidak sempurna maka janganlah ia menuntut agar istrinya juga sempurna.

Akan tetapi sebagaimana perkataan penyair :
مَنْ ذَا الَّذِي تُرْضَي سَجَايَاه كُلُّهَا...كَفَى الْمَرْءَ نُبْلًا أَنَّ تُعَدَّ مَعَايِبُهُ

"Siapakah yang seluruh perangainya diridhoi/disukai…??

Cukuplah seseorang itu mulia jika aibnya/kekurangannya masih terhitung…"
Read More

Sebelum Menjadi Istri Sholihah Jadilah Anak Sholihah Dahulu :)



Sebelum Menjadi Istri Sholihah Jadilah Anak Sholihah Dahulu :)

Pandangilah Ibu kita, ialah wanita yang pernah alami masa riang menjadi seorang gadis kecil. Ibu pernah lalui masa menjadi seorang remaja mudi dengan berbagai sensasi cerita, cita dan cinta. Ibu kita adalah wanita yang pernah lewati masa saat ia mengikat janji dengan seorang pria pembawa kasih sayang sebenarnya kepadanya. Dan ialah wanita yang menjadi sebab kita memanggilnya dengan satu kata yang sangat berarti di hidup kita. Ialah wanita yang menjadi Ibu karna mengandung dan lahirkan kita.
Melihat ia (Ibu), membuatku berkaca. Betapa aku dulunya kecil, dan kini mulai beranjak belasan tahun dan nanti akupun akan sepertinya. Dan Ibu juga pasti pernah lalui masa seperti yang kita alami kini.
Saat kita mulai nakal, dan tak patuhi nasihatnya. Kita membuatnya menangis dan kecewa. Mungkin jika tak kita berikan prestasi terbaik di sekolah, atau tak kita persembahkan bakti kita saat ia meminta pertolongan kita yang itu adalah hal sepele misalnya, ia akan bisa berlapang dada dan memaklumi kelalaian macam itu. Tetapi.. Ku lihat di sinar mata wanita bergelar ibu ini, ku saksikan air matanya yang kecewa dalam, adalah saat anak perempuannya tak mampu menjaga dirinya.
Ya, bayangkanlah kita ada di posisinya saat kita sukses membuatnya menangis sedih. Pasti ia kecewa pada dirinya yang tak berhasil mendidik kita menjadi anak yang sholihah, yang mampu menjaga diri dari pergaulan bebas, terlarut hingar bingar cinta muda-mudi tanpa ikata suci. Mungkin kita bahagia penuh cinta dengan kekasih hati kita, seorang laki-laki yang bagi kita amat mengerti kita dan berbudi pekerti baik. Relakan perasaan, izzah, dan kehormatan untuknya yang masih asing. Pertahankan cinta semu pada pria yang belum halal. Berkencan dan pulang malam. Mungkin ibu kita tak kan tega menghalangi rasa cinta yang di punya anak gadisnya. Tapi Ibu yang baik, dengan segenap masa yang pernah ia lampaui dan kasih sayang sejati kepada putrinya. Ia bersedih pandangi anak gadisnya.
Bersyukurlah jika ibu kita melarang kita untuk pacaran.
Ibu yang baik, tak pernah tidur nyenyak jika anak perempuannya pulang larut. Bahkan ia akan mengernyitkan dahi jika dengar kita meminta izin untuk keluar petang. Ibu yang baik tak pernah rela, dan akan sekuat tenaga membuat larangan agar anak perempuannya tak jatuh kesembarang hati, tak menyerah kan diri ke sembarang laki2.
Ibu kita amat sayangi kita. Ia mengerti anak wanitanya amat berharga.
Maka, terus terang aku merasa heran jika seorang ibu mengikut sertakan anak gadisnya ke dalam konser musik, dan menyuruh nya memakai pakaian sexi. Kata infotaiment,”mama yang peduli kepada sang putri dan mendukung dengan cinta”.
Aku bersyukur ibuku mencintaiku dengan sepenuh kebaikan dan kebenaran.
Aku pernah membuatnya terluka karna masalah menjaga diri. Ku lihat betapa kemarahan tak terbendung lagi di wajahnya. Ia memang suka mengomel, tapi tak pernah membenciku. Kecuali jika aku mulai dilihatnya tak becus mencintai diriku sendiri. Ya, ibu yang baik mencintai karna Allah, dan membenci karna Allah.
Jangan buat ia kecewa, kita memang sederhana tapi bagaimanapun ibu pasti bangga pada anaknya. Jangan buat ia kecewa karna kita sendiri tak sayangi diri kita sebagai muslimah.
Sesekali dengarlah do’a ibu, yang ia pinta adalah putra-putri solih dan solihah.
Lalu aku pun bertanya dalam hati, “Ibuku.. Sudahkah permintaanmu yang itu terkabul?”
Sebelum menjadi istri yang sholihah kita harus menjadi anak sholihah  bagi orang tua kita, lalu bagaimana bisa mendapat anak yang sholihah jika seorang wanita bukanlah ibu yang sholihah. Mulailah dari diri sendiri saat ini. Whats ur status now??? do the best for Ummuki!
Read More

ISTRI SHOLIHAH PENYEJUK HATI



                                   ISTRI SHOLIHAH PENYEJUK HATI
                                  
                                                        

          Dengan wajah lesu dan tatapan penuh kekecewaan, seorang suami mengadukan permasalahan yang sedang dia hadapi bersama istrinya kepada salah seorang sahabatnya yang mengerti agama. “Saya hampir tidak pernah menikmati kecantikan istri saya yang sebenarnya dia miliki, “kata si suami mengawali pengaduannya. Istrinya hanya mau berdandan bila akan ke pesta atau sekedar jalan-jalan. Tetapi si istri tidak punya kebiasaan seperti itu bila tidak keluar, bahkan dianggapnya lucu karena bukan pada tempatnya untuk berdandan di rumah. Begitulah kira-kira isi keluhan si suami. Sahabatnya menasehati. “Tunaikanlah hak istrimu yaitu didiklah ia dengan ajaran agama, agar mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya, bersabar dan banyaklah berdoa pada Allah. “Suami itu tersentak sadar bahwa meskipun perjalan rumah tangganya dengan sang istri telah membuahkan lima anak dia sama sekali belum menunaikan hak istri yang satu ini. Istri Shalihah Ingin selalu tampil cantik dihadapan lawan jenisnya sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi umumnya wanita.
Namun kenyataan yang ada sekarang sering istri berpikir terbalik. Didalam rumah dan dihadapan suaminya, istri merasa tidak begitu perlu untuk tampil dengan dandanan yang cantik dan memikat. Namun jika keluar rumah segalanya dipakai; baju yang bagus, aksesoris indah, make-up yang mencolok dan parfum yang semerbak turut melengkapi agar dapat tampil wah. Lalu bagaimana cara menyelamatkan keadaan yang terbalik ini? dengan penuh kemantapan dan tanpa ragu sedikitpun, jawabannya adalah kembali kepada ketentuan syari’ah islam dan tidak ada alternatif lain. Islam telah memberikan bimbingan, bagaimana menjadi istri yang shalihah, sebagaimana ciri-cirinya telah disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Bahwa beliau bersabda: “Apabila diperintah ia taat, apabila dipandang menyenangkan hati suaminya, dan apabila suaminya tidak ada dirumah, ia menjaga diri dan harta suaminya.” (HR.Ahmad dan An-Nasa’i, di Hasan-kan oleh Albani dalam Irwa’ no.1786) Kalau kita lihat tuntunan islam diatas, ternyata bukanlah suatu yang sulit untuk dilaksanakan. Siapa pun bisa melakukannya.
Disamping itu istri yang mempunyai tiga ciri diatas memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan Allah, dan diibaratkan sebagai perhiasan dunia yang terbaik; sebagaimana yang dinyatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam: “Dunia adalah perhiasan (kesenangan) dan sebaik-baik perhiasan (kesenangan) dunia adalah wanita (istri) shalihah.” (HR.Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash) Diniatkan untuk Ibadah Seorang istri yang baik akan berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun terkadang timbul perasaan malas atau berat untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajibannya, tetapi hendaknya diingat bahwa keridhaan suami lebih diutamakan diatas perasaannya. Lihatlah apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam ketika Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya: “Siapa diantara manusia yang paling besar haknya atas (seorang) istri?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam menjawab, “Suaminya.. “ (HR. Hakim dan Al-Bazzar) Dengan taat kepada suami dan tentunya dengan menjalankan kewajiban agama lainnya, dapat mengantarkan istri kepada surga-Nya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh Al-Albani: “Bila seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan dan memelihara kemaluannya serta taat kepada suaminya, maka kelak dikatakan kepadanya: “masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau inginkan.” Kemudian hendaklah istri mengingat akan besarnya hak suami atas dirinya, sampai-sampai seandainya dibolehkan sujud kepada selain Allah maka istri diperintahkan untuk sujud kepada suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam: “Andaikan saja dibolehkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi: Hasan Shahih) Terlalu banyak peluang bagi seorang istri untuk beribadah kepada Allah dalam rumah tangganya dan terlalu mudah dalam memperoleh pahala dalam kehidupan suami istri. Namun sebaliknya terlalu mudah pula seorang istri terjerumus kepada dosa besar kalau melanggar ketentuan yang telah Allah gariskan. Yang perlu diingat oleh istri ialah agar berupaya mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dalam melaksanakan kewajibannya sepanjang waktu. Menyenangkan Hati Suami Apabila diperintah oleh suaminya, istri diwajibkan untuk mentaati. Dan apabila suaminya tidak ada dirumah, istri harus pandai menjaga dirinya dan kehormatannya serta menjaga amanah harta suaminya. Istri yang demikian ini akan dijaga oleh Allah sebagaimana Firman-Nya: “ ..maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa’: 34)
Adapun kriteria pertama dan ciri-ciri shalihah; Imam As-Sindi mengatakan dalam bukunya Khasyiah Sunan Nasai juz 6 hal 377: “Menyenangkan bila dipandang itu artinya indahnya penampilan secara dzahir serta akhlaq yang mulia. Juga terus menerus menyibukkan diri dalam taat dan bertaqwa kepada Allah.” Banyak hal yang dapat menyenangkan hati suami, diantaranya: penampilan diri agar enak dipandang, dan berbicara dengan menggunakan tutur yang menyenangkan serta dalam hal pengaturan rumah mampu menciptakan suasana bersih dan nyaman. a. Penampilan Diri Umumnya suami lebih sering keluar rumah untuk menunaikan tugasnya apakah itu bekerja mencari nafkah ataukah berdakwah, sementara kita tahu keadaan di luar, sangat mudah sekali pandangan mata menjumpai wanita yang berpakaian minim dan menyebarkan aroma wewangian. Sekalipun seorang istri percaya suaminya akan berusaha memalingkan wajah dan menundukkan pandangannya karena takut dosa, namun laki-laki yang normal mungkin dapat tergoda melihat aurat yang haram tersebut.
Diakui atau tidak, hal ini sangat mungkin terjadi. Bagaimana seandainya istri merasa tidak perlu untuk tampil cantik dihadapan suami dengan alasan tidak adanya waktu karena telah tersibukkan dengan anak dan urusan rumah, apalagi bila tidak ada pembantu. Sehingga dengan penampilan seenaknya dan terkadang (maaf) menyebarkan aroma yang kurang sedap ketika menyambut suaminya yang baru datang dari luar. Berpakaian model apapun yang diingini dan disenangi suami dibolehkan dalam syariat islam dan tidak ada batasan aurat antara istri dan suaminya. Dandanan yang memikat dan aroma parfum yang harum akan menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata suami akan tertutup dari melihat pemandangan haram di luar rumah bila mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat memuaskan atau menyenangkan suami sehingga suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan (tertarik melihat pemandangan haram di luar rumah) maka berarti si istri turut berperan membantu suaminya bermaksiat kepada Allah. b. Berbicara yang Enak Pada saat suami istri duduk-duduk sambil berbincang tentang barbagai hal, hendaknya istri memlilih ucapan yang baik dengan tutur kata yang indah dan lembut serta sedapat mungkin menghindari pembicaraan yang tidak disukai oleh suami. Demikian pula ketika suami berbicara istri sebaiknya mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan suami. c. Pengaturan Rumah Penting juga diperhatikan penataan rumah yang baik, bersih dari najis dan terhindar dari aroma yang kurang sedap. Walhasil, ciptakan suasana rumah yang menjadikan suami betah berada di dalamnya. Untuk membuat penampilan lebih menarik tidak harus dengan wajah yang cantik, demikian juga untuk membuat rumah bersih dan rapih tidak harus dengan harga yang mahal. Insya Allah semuanya bisa dilaksanakan dengan mudah selama ada keinginan dan diniatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah. Bukankah segala sesuatu yang baik itu akan bernilai ibadah bila diniatkan hanya untuk Allah?
Read More
Batman Begins - Help Select